šŸ”„ Diskon 40% — Kode SPECIAL40⚔ Promo terbatas!

Context Engineering: Panduan Praktis Optimasi AI Coding

Context Engineering: Panduan Praktis Optimasi AI Coding

Galih Pratama•

"AI slop" itu bukan salah model-nya, tapi salah kita sebagai user.

Di tools kayak Claude Code, context adalah satu-satunya input yang bisa kita kontrol — jadi gimana cara optimasinya?


Apa Itu Context?

Context adalah semua yang kamu kasih ke AI saat kirim pesan.

Ini termasuk:

  • Prompt kamu sendiri
  • System prompts
  • Pesan-pesan sebelumnya
  • Thinking process AI
  • Tool calls dan responses
  • Metadata lainnya

Intinya: semua yang ada di "otak" AI saat dia generate response.


Kenapa Context Penting?

AI punya context window yang terbatas.

Semakin panjang conversation, semakin susah AI untuk keep track semuanya dengan akurat. Kualitas output-nya bisa menurun.

Di Claude Code, context window kita cuma 200K tokens. Kedengeran banyak, tapi sebenernya cepet penuh.

Kalau kamu run /context, kamu bakal lihat:

ā”œā”€ā”€ 22.5% reserved (buffer)
ā”œā”€ā”€ 10.2% system prompts
ā”œā”€ā”€ X% MCP servers
ā”œā”€ā”€ X% subagents
ā”œā”€ā”€ X% rules & settings
└── Sisanya buat kamu

Realitanya, kita cuma punya sekitar 120K tokens untuk kerja. Dan yang lebih penting: kualitas output AI menurun seiring context membesar — bahkan kalau belum mentok limit-nya.

Jadi pertanyaannya: apa yang harus kita masukin ke context supaya hasilnya optimal?


Basic Setup yang Harus Dilakukan

Kabar baiknya, 80% hasil bagus datang dari setup dasar yang benar:

# 1. Upgrade ke Max plan (kalau serius)
/upgrade

# 2. Pakai model terbaik untuk planning
/model → opus 4.5

# 3. Buat file untuk bantu Claude pahami project
/init

Dari sini, advice standar yang sering kamu denger itu bener:

  1. Mulai di Plan Mode (Shift + Tab)
  2. Minta Claude tanya balik untuk klarifikasi hal-hal yang ambigu
  3. Execute plan yang sudah kamu refine

Subagents, custom commands, hooks, multi-agent orchestration — semua itu seru, tapi... nggak se-game-changing yang orang-orang bikin keliatan.

Paham cara pakai basic dengan bener itu lebih penting.


Workflow yang Bener

Satu Thread = Satu Objektif

Treat setiap conversation baru sebagai satu objektif yang jelas:

  • āœ… "Saya mau fix bug X"
  • āœ… "Saya mau bikin fitur Y"
  • āŒ "Bikin app lengkap dari A-Z" (terlalu broad)

Untuk Project Baru

Kalau objektif-nya lebih broad, berarti butuh planning lebih lama:

  1. Plan dulu
  2. Refine plan-nya
  3. Minta Claude tanya-tanya sampai dia kehabisan pertanyaan
  4. Review plan dari berbagai sudut:
    • Arsitektur
    • Best practices
    • Security risks
    • Production readiness
    • Testing strategy

Goal-nya: kasih detail di setiap tempat yang bisa bikin ambigu.


Kapan Harus Reset (dan Gimana Caranya)

Kalau Semuanya Lancar

Lanjut aja! Selama task masih relevan dengan apa yang udah ada di context.

Kalau context mulai penuh, run /compact untuk bikin space — atau biarkan Claude Code otomatis compact (itu gunanya 22.5% buffer tadi).

Kalau Mulai Berantakan

Ini yang sering terjadi:

šŸ“˜ Mau belajar lebih dalam?

Dapatkan panduan lengkap vibe coding di ebook "Memulai Vibe Coding".

Lihat Ebook →
Kamu: "Itu salah, tolong fix"
Claude: *bikin lebih parah*
Kamu: "Bro itu makin ancur, mikir dong"
Claude: *makin ngaco*

Kalau udah di loop kayak gini, jangan lanjut di thread yang sama. Kamu punya opsi:

Option 1: Rewind

/rewind

Balik ke titik di conversation di mana semuanya masih oke.

Option 2: Mulai Baru

/new

Buat thread baru. Ambil prompt awal kamu, refine, dan coba lagi. Di prompt baru, specifically mention apa yang JANGAN dilakukan berdasarkan kesalahan sebelumnya.


Jangan Terjebak Complexity Trap

Kalau kamu sering scroll Twitter/X, pasti udah kebanjiran setup-setup fancy:

  • MCP servers ini itu
  • Subagents sana sini
  • Skills macam-macam
  • Multi-agent orchestration

Mungkin kamu udah bookmark banyak thread yang "nanti dibaca".

Advice pertama: jangan over-complicate.

Goal kita, seperti kata Anthropic, adalah:

"Find the smallest possible set of high-signal tokens"

Semakin banyak kamu masukkin data (dari MCP servers, misalnya), semakin penuh context window kamu dengan low-signal noise — dan semakin boros token (= uang).


MCP Servers: Cara Pakai yang Bener

MCP servers itu basically tools pihak ketiga yang bisa AI pakai untuk ambil context:

  • Dokumentasi
  • Code dari GitHub
  • Tickets dari Linear
  • Design dari Figma

Waktu pertama keluar, MCP servers di-hype gila-gilaan. Tapi orang cepet sadar: banyak yang makan context terlalu banyak dan nggak worth it.

  1. Exa.ai — Web search untuk AI agents
  2. Context7 — Dokumentasi up-to-date untuk AI agents
  3. Grep.app — GitHub search untuk AI agents

Kapan Pakai MCP?

Pakai untuk gather context tentang cara implementasi — hal-hal yang sebenernya bisa kamu research sendiri di docs atau cari code snippets.

Anthropic nyebut ini "Just-in-Time Context Strategy" — di mana agent cari informasi sendiri saat dibutuhkan.


Subagents: Cara Hemat Context

Subagents adalah instance Claude Code lain yang jadi "anak" dari main agent.

Cek subagents yang kamu punya:

/agents

Kenapa Subagents Penting?

Subagents punya:

  1. Context window terpisah dari main agent
  2. Bisa pakai model berbeda (misal: Sonnet instead of Opus)

Artinya: kamu bisa spawn subagent untuk tugas yang makan token banyak (kayak research), terus dia kasih summary singkat ke main agent.

ā”Œā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”
│              MAIN AGENT (Opus)              │
│                                             │
│  "Pakai librarian untuk research X"         │
│                    │                        │
│                    ā–¼                        │
│    ā”Œā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”      │
│    │  SUBAGENT "Librarian" (Sonnet)  │      │
│    │                                 │      │
│    │  - Scan repos                   │      │
│    │  - Baca docs                    │      │
│    │  - Pakai MCP tools              │      │
│    │                                 │      │
│    │  Output: Summary singkat        │      │
│    ā””ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”˜      │
│                    │                        │
│                    ā–¼                        │
│  Main agent dapat summary (hemat token!)    │
ā””ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”˜

Contoh: "Librarian" Subagent

Workflow favorit: subagent "librarian" yang pakai Sonnet (lebih murah) untuk:

  • Scan open source repos
  • Baca dokumentasi
  • Kasih summary padat ke main agent

Prompt ke main agent:

"Pakai librarian untuk research cara implementasi X dengan library Y, 
terus implement Z berdasarkan hasilnya"

Benefit:

  • Context window main agent nggak terpolusi
  • Hemat uang (Sonnet lebih murah dari Opus)
  • Task research di-handle agent yang specialized

Skills: Tarik Context yang Relevan

Skills itu kebalikan dari subagents.

  • Subagents: Delegasi task ke agent terpisah dengan context sendiri
  • Skills: Tarik specialized knowledge ke context agent yang sekarang

Contoh: Claude Code punya skill "frontend designer" — prompt panjang yang kasih tau Claude dos and don'ts untuk design frontend.

ā”Œā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”
│                 AGENT                       │
│                                             │
│  ā”Œā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”    │
│  │         SKILL: Frontend Design      │    │
│  │                                     │    │
│  │  - Typography guidelines            │    │
│  │  - Color best practices             │    │
│  │  - Layout patterns                  │    │
│  │  - Animation dos & don'ts           │    │
│  ā””ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”˜    │
│                                             │
│  Agent sekarang "tau" cara design frontend  │
ā””ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”€ā”˜

Kedengerannya fancy, tapi sebenernya simple: Claude narik chunk text ke context saat dia pikir perlu pakai skill itu.


Kesimpulan

Vibe coding yang bagus itu tentang optimasi value-dense context.

Setiap informasi yang kamu kasih atau terima dari AI harus concise dan aim untuk bantu AI jawab request berikutnya.

Kalau nggak begitu — jangan lanjut di context yang sama. Ini kunci utama untuk hindari slop trap yang frustrating.

Rangkuman Tips

Tip Penjelasan
Satu thread = satu objektif Jangan campur-campur task yang beda
Plan lebih lama Refine sampai nggak ada ambiguity
Rewind atau restart Kalau udah masuk slop loop, jangan maksa lanjut
Jangan over-complicate Basic yang bener > fancy setup yang salah
Pakai subagents untuk research Hemat context main agent
Skills untuk specialized knowledge Tarik expertise yang dibutuhkan

Mindset yang Bener

Perintah fancy yang kamu lihat di Twitter — subagents, MCP, skills — mungkin bikin kamu ngerasa ketinggalan...

Realitanya, nggak se-complicated kedengerannya.

Coba bantu AI dengan informasi yang concise dan berkualitas, kasih dia tools untuk cari informasi sendiri — sama kayak kamu treat kolega kerja.

That's it. Itu intinya.

Artikel Terkait

Siap mulai vibe coding?

Pelajari cara membuat aplikasi tanpa perlu pengalaman coding sebelumnya.

Beli Ebook Sekarang